Articles by "Remaja"
Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan
KEHILANGAN
Oleh : Safrizal Usman
Secangkir di pagi hari
Memecahkan kedinginan dengan kehangatan
Membawa semangat dan gairah datang
Dengan asap rokok sebatang…
Yang selalu menemani kehidupan …


Jiwa lemah,rapuh bergoyang
Di hamparan meja rotan…

Wajahnya selalu terbayang ..
Dalam ingatan tak terlupakan


Dirinya sang pahlawan..
Yang hadir di kesusahan
Membawa seribu kesenangan..

Sekarang  jiwa itu telah pulang
Menempuh perjalanan panjang
Meninggalkan kesedihan…

Kami akan menyusulmu di belakang
Tunggulah kami di hari kebangkitan..
Kami pasti datang..

jantho,08-03-2014
Pemburu Buta
Oleh:safrizal



Dulu kau yang mengajari kami
Jangan menzolimi sesama muslim
Dulu kau juga yang bilang
Jangan mengambil hak orang lain
Dulu kau yang bilang jangan mengingkari janji
Tapi itu dulu..
Skarang kata itu seperti tlah hilang dalam dirimu
Ajaran mu tegasanmu
Kini tlah hilang..
Dengan satu alasan yang kau berikan
Dengan satu perkataan dengan sulapan lidah mu
Antara ide otak licikmu
Kau bersandiwara
Dirimu pemburu buta..
*safrizal,seorang desainer yang menulis puisi di waktu senggang.
Penantian Tak Pasti
Oleh:safrizal



Di pagi ini aku terus menanti
Menanti kedatangan yang tak pasti
Engkau di sana..aku di sni
Menunggu hal yang tak pasti
Dulu..
Kau berjanji sehidup semati
Bersumpah langit dan bumi
Dulu..
Engkau bilang padaku
Cinta ku..cintamu
Sayangku..sayangmu
Rinduku..rindumu
Hidupku..hidupmu
Matiku..matimu
 
Tapi itu dulu
Sebelummu kenal dia
Sekarang semua itu7 telah sirna
Pergi entah kenapa
Mungkin itu hanya cerita fiktif belaka.
 
*safrizal,hanyalah seorang yang menulis puisi di waktu senngang.
Peristiwa Subuh Hari
Oleh:safrizal


Dikala fajar terbit ,pagi pun datang
Melenyapkan kegelapan malam
Mengusir bintang dan bulan.
 
Ayam berkokok tanda subuh datang
Aku pun terjaga dalam kehangatan
Mendengar suara azan
Orang-orang pun beramaian
Untuk mencari kemenangan
 
Denyat denyut suara pun mulai kudengar
Suara iqamah terdenagrkan
Orang pun berapatan ,melaksanakan kewajiban.
 
*safrizal,hanyalah seorang yang menulis puisi di kala waktu bersama.
Ruang Hampa
Oleh:safrizal


Pernahkah engkau terasa terasingkan .
Tak ada cahaya
Hanya gelap yang memahami
Sepi rasanya
 
Pernahkah kau sadar
Sejauh mata memandang
Hanya gelap yang kau lihat
Pernah kah kau merasa
Di mana kau berada.?
Itualah ruang hampa
Hanya gelap yang slalu ada di mana-mana hanya gelap
Ruang hampa.
 
*safrizal,hanyalah seorang yang menulis puisi di kesegangan waktu sehari hari.
Tangis Pnenyesalan
Oleh:safrizal


Bunga layu di tepi jalan
Harum yang semerbak telah hilang
 
Bunga yang di harapkan
Tak ada harapan
Pucat memudar warna di karang
 
Mengharap kumbang kembali datang
Tang telah mengambil madu kenikmatan
Kini dia terbang untuk menghilang
Meninggalkan kecewa yang amat dalam..
Dalam tangis penyesalan.
 
*safrizal,hanyalah seorang yang menulis puisi di kala waktu senggang.
Oleh:safrizal


Afdhal berkata
Dulu dia yang mengajariku
Jangan menzalimi sesama muslim
Dulu dia yang mengajariku
Jangan  mengambil hak orang lain
Dulu dia juga yang mengajariku
Jangan ingkar janji
Dulu dia juga yang mengajariku
Jangan berbohong
Tapi itu dulu..
Skarang semua itu tlah hilang
Di hempas masa dan waktu
 
*safrizal, seorang penulis pemula, sekarang bekrja di nadesain.
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/01/31/celaka
SUNGGUH, tidak ada yang lebih kha daripada Mustafa Musa. Bahkan jika ia berjalan di pasar, seakan bukan hanya pedagang yang menunduk, tapi juga tokotokonya sekalian. Sayur mayur dan lauk pauk yang berserak tumpuk segera berkumpul,menyambut Mustafa Musa. Yassalam, inilah lelaki paling hebat sepanjang sejarah ditemukannya pulau Sumatera oleh bajak laut. Tidak ada selain dia. Mustafa Musa berhasil menguasai Pasar Selatan hanya berbilang hari dari rencana penaklukannya semula.

Padahal ini pasar dikenal bengal dan kejam.Ketika baru terpilih ia berjanji akan emurahkan harga pangan sandang, meringankan harga mahar, mensejahterakan janda-janda, dan tentu saja dibumbui sekelindan janji lainnya. Sebenarnya itu tidak perlu, toh, tidak ada yang berani protes sekalipun ia ingkar.
Hanya dua orang yang berani bersikeras menuntut: Sabiran dan Malik Husen. Keduanya telah berpulang ke pangkuan tanah. Usut punya usut, mereka portes agar Mustafa Musa segera dienyahkan. Mereka seniwen setelah tanahnya disita pasukan Mustafa untuk kepentingan pembangunan. Sekarang Mustafa sedang menyusun rencana penabalan diri sebagai Tuan Abadi Kuasa. Namun rencana itu enjadi kacau. Puncanya setelah ia mendapat kabar pada Senin malam, saat sedang duduk di kedai kopi Asbabun Nisa. Saat itu dia teringat teman baiknya,Marzak. Marzak adalah eorang guru bahasa, bajingan ini kepercayaannya, sudah beranak dua tapi masih sukaenggoda cewek-cewek perempuan saat mengajar di kelas.
“Itu hanya ramalan, Tuanku. Jangan terlalu percaya. Zulkifli itu memang penyebar berita buruk,” ujar Marzak meringankan beban pikiran temannya. “Tapi aku sudah melihat kenyataannya,” kata Mustafa Musa ngilu. “Apakah tidak sebaiknya Zulkifli kita enyahkan saja? Apa susahnya bagi Tuan? Dia telah membuat keresahan.” Demikianlah! Kabar yang berembus Zulkifli sedang dicari pihak Mustafa Musa. Orang-orang yang difitnah tidak perlu membela diri, saudara. Kita hanya perlu balas dendam,” ujar Zulkifli kepada teman-temannya sesama pedagang. Malam itu, Senin, bulan masih sabit. Mustafa Musa duduk sendiri di bangku panjang yang melidah dari pintu ke dindingdepan kedai kopi Asbabun Nisa.
“Tuanku, Mustafa Musa!”
Terloncat dari bangku Mustafa Musa mendengar suara itu dan segera memasang kuda-kuda. “Tak perlu bersiaga. Saya tidak akan membunuh Tuan.” Zulkifli tertawa. “Kau selalu membuat hidupku dalam keadaan berenang-renang, Zul,” ucap Mustafa Musa. Dia duduk kembali. “Sudah demikian adanya, Tuanku. Anak-anak Tuan, cobalah lihat, semakin ta terkendalikan. Semalam saya lihat si sulung sedang memadu cinta di Selatan Tiga.
Tak wayang, lelaki yang memeluknya itu....!” “Lelaki? Kau berdusta,” hardik mata Mustafa Musa melebar, suaranya menggelegar. “Memang tak ada kata percaya dalam kamus Tuan untuk saya. Sama seperti ketika anak-anak lelaki Tuan saya kata akan menjadi banci. Tuan tak terima. Hari ini, jadi banci mereka. Siapa lagi pewaris Tuan?” “Aku tidak perlu cerita itu, Zulkifli.Katakan padaku siapa lelaki yang memelukSalim Wahidin!”
“Tuan tak akan percaya,” Zulkifli mengeraskan suara. “Kamu salah mata!”
“Mata saya masih sangat terang, Tuan.”
“Celaka! Celaka!”
***
Marzak menyusun rencana untuk menumpas Zulkifli. Kedekatannya dengan Mustafa Musa membuat ia berani mengambil keputusan sendiri. Di pasar, diam-diam dia kerap memerhatikan gelagat Zulkifli yang khusyuk berjualan peci. Nun di kamar kehormatan, Mustafa Musa terbaring sakit sudah sepekan. Anak sulungnya, Salim Wahidin sudah terganggu jiwanya setelah dihantam benda tumpul di tengkuknya oleh orang tidak dikenal. Seorang pengawal buru-buru masuk menyampaikan, “Zulkifli telah mati, Tuan. Di tangan Marzak!” “Bagaimana bisa?” Mustafa Musa terkejut bangkit sekalipun masih lemah. “Kami tidak tahu persis. Tapi Marzak sedang dirajam warga Pasar Selatan karena ditemukan sedang bercinta dengananak lelaki kedua Tuan!” Mustafa Musa membeliak tak percaya. Suara lemahnya hanya mengucap,” Celaka! Celaka!”
* Nazar Shah Alam adalah pegiat di Komunitas Jeuneurob
Karya Ikhsan Hasbi
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/02/14/pohon-hasan
SEKIRANYA itu tidak perlu, saya tidak akan mengenangnya,” tulisHayyan dalam sebuah catatan kecil yang kutemukan setelah ia meninggal. Aku melihat ada bentuk gumpalangumpalan awan mendung di buku itu. Kukira airmata. Tetesan itu semakin menggenapkan dugaanku tentang esedihannya, melihat apa yang terjadi setelah ia kembali lebih dari 20 tahun masa perantauannya.

Dulu, di depan gedung serbaguna, ada sebuah panggung yang tidak terlalu lebar, yang sering kami gunakan untuk bermain galah, dengan kerindangan di halaman yang luas, cukup menjadi tempat yang paling menyenangkan bagikami menghabiskan waktu sambil bermain, terutama saat bel jam istirahat di sekolah berbunyi. Panggung itu mengusung duagambar gajah yang saling berhadapan yang dikenal sebagai Meurah Duek. Aku dan teman-teman lainnya akan menggambar persegi seluas panggung itu, lalu kami bagi empat berbentukpersegi.
Membutuhkan dua kelompok untuk memainkan permainan itu. Butuh enam penjaga di tiap garis: masingmasing penjaga di garis horizontal yang searah dengan tangga panggung dan tiga penjaga di garis vertikal.
Penjaga bertugas untuk menghalau setiap orang yang ingin melewati garisgaris itu. Seolah garis horizontal yang berdekatan dengan tangga panggung menjadi pintu utama. Para penjaga ini boleh menyarangkan pukulan serupa membulatkan buku tangan, lalu menghantam punggung lawan, atau serupa tepisan, setidaknya mampu menyentuh lawan main. Marah dan malu sudah risiko, tapi sebisanya tidak boleh meluapkan perasaan itu.
Maka berjalanlah permainan sambil mengacak- ngacak langkah. Seorang penjaga akan mengangkat kedua tangan lebar-lebar untuk menjaga dua pintu yang saling membelah karena akan ada dua pemain yang hendak melewati garis. Jikakedua pemain berhasil menembus penjagaan itu hingga akhir, mereka dinyatakan menang dan diakui lihai menghindari pukulan penjaga.
Namun jika gagal, mereka harus tukar posisi menjadi penjaga. Maka tak urung dalam permainan itu akan terdengar, ‘buk’, disertai ucapan ‘aduh’ atau cacian yang tak jelas arahnya akibat pukulan si penjaga. Wajah mereka akan berubah getir, tersenyum getir, memasang tampang kuat, seolah sudah terbiasa dan sanggup menahan deraan.
Di saat seperti itu, selalu ada yang menertawakan. Entah kenapa pula dalam urusan tertawa, aku jadi berpikir, apakah memang sudah sifat anusia suka menertawakan penderitaan orang lain? Usai bermain, kami akan berkipaskipasan. Baju putih berkeringat melekat di badan. Keringat di jidat menemukan jalur ke dagu dan menetes satu dua. Mengingat sebentar lagi waktu istirahat akan habis dan kami harus masuk kelas, aku akan embasuh tangan dan muka ke kamar mandi yang terletak di luar sekolah, di sebuah bangunan kecil bersebelahan dengan pagar sekolah.
Sebuah sumur dengan cincin di atas permukaan setinggi kurang lebih 50 centi bergolak saat timba bocor kujatuhkan ke dalamnya. Cahaya seringkali mampu menembus celah yang berlubang. Cahaya itu jatuh ke dalam sumur, pantulannya akan jelas terlihat bening. Dan di dasar sumur aku bisa melihat, sapu dan kursi yang berlumut. Usai ritual basuh membasuh itu, aku akan bergegas masuk kelas sebelum guru mengayunkan penggaris kuning laksana ayunan pedang para Kesatria Templar. Setiap jam istirahat, selalu ada alasan bagi kami keluar dari area sekolah.
Sangking seringnya, banyak guru yang tidak sanggup lagi mengingatkan. Kami masih dengan prinsip dasar: makin dilarang makin melanggar. Sembari melingkari jarak untuk menghilangkan jejak akibat larangan jajan di luar sekolah, kami akan meloncati pagar sekolah, terus ke belakang bangunan kuning yang disesaki aliran comberan yang baunya minta ampun.
Bila musim padi menghijau tiba, aku sering merasakan sensasi kesenangan menyambut panorama alami i belakang bangunan kuning itu, palagi dihembus angin persawahan yang mengingatkanku betapa menyenangkan hidup di masa kecil dengan segala keluwesan dan mungkin ketertinggalan—menurut anggapan orang kota yang bagiku terkesan kolot dan tidak tahu menahu. Namun ganggang ang meruapkan bau bacin, sisa insang ikan yang terpotong, kotoran manusia yang ikut melarung di dalamnya dan sampah yang menggenang namun masih mampu bergerak dialirkan air got, menyisakan hal yang paling binal dalam ingatanku: kebiasan manusia adalah menumpuk kotorannyaada satu tempat, lalu dialirkan tanpa memikirkan ke mana muaranya!
Bersama-sama teman sekelas, kami menjadi kuat: kuat menanggung akibat, jika seandainya guru sekolah tahu kami cabut jam istirahat ke pasar; kuat menanggung ingatan, jika seandainya kenangan silam membuat kami sedih dan ingin berkumpul bersama lagi, meskipun di balik ingatan itu kami yakin, absurditas apalagi yang mesti dipertaruhkan untuk melanggengkan lintasan waktu agar abadi antara masa lalu, sekarang dan masa depan!
Dengan baju putih dan celana biru dongker panjang, kami melenggang, layaknya kesumat yang dibiarkan berkeliaran menata dan meluapkan balas dendamnya. Kerumunan orang di pasar membuat kami senang. Canda tawa antar sesama pedagang dan pembeli, menghidupkan kesemarakan yang tidak pernah kudapatkan lagi di masa sekarang.
Apalagi di hari Rabu. Pada hari pekan itu, penjual dan pembeli saling beradu: mulut, harga, harkat dan martabat. Lakon yang mampu menghidupi kesemarakan. Para penjual pernak-pernik hiasan, penjual baju, jilbab, baju dalam, celana dalam, tembikar, parang, pisau, panci, beulangong, dan tak urung jasa tambal barang rumahan itu.
Ada pula penjual obat-obatan, hasil racikan yang barangkali tanpa izin badan resmi, langsung mendagangkan barangnya. Seperti yang kutemukan alam ingatanku: seorang lelaki berkopiah haji yang tak henti-hentinya melambungkan kata-kata. Kadang disertai irama dan nyanyian yang membuat banyak orang betah berlama-lama di dekatnya. Bermodalkan pengeras suara alakadar, cukup untuk mlontarkan kata-katanya di antara ratusan orang yang berjejalan; tangan-tangan yang mengantongi sayur, baju, pisau, pernak-pernik dan apa saja yang bisa dijinjing.
Sedangkan anak-anak seperti kami, dengan tubuh mungil, sebisa mungkin merenggangi celah di antara kaki panjang orang dewasa, atau sekedar mengintip cara bertutur, seni berdagang orang-orang yang punya sejuta kalimat alternatif, yang ujung-ujungnya supaya dagangannya laku!
Mengenangnya saja bagiku sudah cukup menghibur. Sekalian dengan kenangan itu, aku pun diingatkan bahwa tak ada jalan kembali, selain meretas yang silam dalam ingatan. Sepulang dari pasar, kami akan membawa berbagai hal yang bisa kami beli, bermodalkan jajan atau sisa jajan kemarin yang sudah bertambah dengan jajan hari ini. Ada yang membawa pulpen dengan gambar menarik—yang kemudian dianggap sudah dibumbui dengan bahan narkotik.
Sedangkan aku, jarang membeli hal-hal semacam itu. Aku terbiasa membeli mie caluek Kak Yam. Aku tidak mampu meraba dalam ingatanku tentang ketepatan tanggal, barangkali hanya tahun. Pohon hasan, satu-satunya pohon yang tumbuh dihalaman yang luas agak ke kiri dari panggung tempat kami bermain galah. Pohon itu cukup rindang dan besar. Butuh sekitar enam atau tujuh lengan orang dewasa untuk bisa memeluk pohon itu. Dahan-dahannya yang besar mampu menghalau pendaran cahaya matahari di hampir seluruh permukaan lapangan.
Di bawah pohon itu, kami sering melepas canda tawa. Menyantap mie caluek atau memamerkan aneka benda menarik. Tak jarang pula pohon itu adi tempat bagi teman-teman atau senior mencantumkan tulisan asal-asalan.Misalnya, Mirna yang disertai lambang love disanding dengan nama Iqbal; meski kadang-kadang yang menulis bukanlah yang punya nama. terlihat juga bentuk serupa cakaran akibat keisengan orang yang tidak bertanggung jawab. Seolah pohon hasan menjadi dinding curahan perasaan atau amuk mereka yang putus asa. Lainnya adalah hiasan tak layak, menjelma dalam kebutaan fantasi anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa.
Teman-teman yang lincah akan berjinjing di dahan dan sebentuk akarakaran untuk memanjat hingga ke dahannya yang lebih besar. Aku tidak ernah memanjat pohon itu, teringat cerita beberapa teman kalau di tengahtengah pohon itu, ada lubang tempat ular bersarang. Lubang itu barangkali dengan gampang menjelaskan: pohon hasan itu memang besar, namun tidak sekokoh yang dibayangkan.
Di musim yang aku tidak tahunamanya, putik-putik kuning akan berjatuhan, seolah salju di negeri empat musim. Indah sekali! Hingga lapangan yang luas kehijauan jadi menguning, kuning-kuning kehijauan. Sensasi putik-putik kuning yang luruh membuat kami sering berandai-andai, membuka ancing baju, dibantu angin yang akan menggerakkan kemeja putih kami yang tidak terkancing. Putikputik kuning itu jatuh seperti dalam adegan film India, lalu kami berputarputar menyambutnya.
Alangkah senangnya! elihat kembali pohon hasan itu dalam ingatan, aku membayangkan Taman Nasional Sequoia di California yang dipenuhi pohon-pohon raksasa. Dulu, saat panggung di depan gedung serbaguna itu di puncak kejayaannya, ada ragam pementasan: mulai dari konser, penampilanpenampilan spektakuler hingga tempat upacara. Pohon hasan itu cukup membantu dan menjadi tempat favorit remaja atau orang-orang dewasa agar bisa menonton pertunjukan di panggung secara leluasa.
Namun yang membuatku sering bertanya-tanya, kenapa pula pohon itu dinamakan seperti nama manusia, Hasan! Aku tak sempat mendapatkan jawaban itu, hingga suatu ketika, saat pulang ke kampung, aku tak lagi melihat pohon hasan di tengah halaman gedung serbaguna yang luas itu. Di atas jejak pohon hasan itu sudah dibentuk semacam undakan dengan patung seekor gajah yang mengangkat kedua kakinya dan mulut yang seolah sedang meniup sebuah sirene. Sesaat aku berpikir, ‘oh barangkali sang penguasa menebang pohon hasan untuk mengembalikan lambang gajah pada kota ini.’
Namun beberapa bulan kemudian, anggapanku itu keliru. Ketika aku kembali dengan wajah cerah, setelah merantau sekian tahun, aku menemukan lahan di depan gedung serbaguna itu sudah rata. Pohon hasan telah lama ditebang, barangkali karena sewaktu-waktu dahannya yang rapuh bisa enimpa orang yang berdiri di bawahnya, lalu untuk mudahnya diganti dengan patung gajah.
Namun yang tersisa alam pandanganku kali ini adalah kecerobohan. Kecerobohan yang barangkali tidak termaafkan. Tak ada lagi pohon hasan, tak ada lagi patung gajah. Lantas, aku hanya bisa berpendapat, ‘O, barangkali sang penguasa tak memerlukan lagi jasa gajah, hingga lambang itu dihancurkan pula; dan jelas pula tak memerlukan kerindangan pohon hasan. Yang jelas, ingatan tentang kenangan itu tak akan mampu dibebat.’ Sembari berkelana sesaat ke masa lalu, mataku masih menghujam pada catatan kecil milik Hayyan, “Sekiranya itu tidak perlu, saya tidak akan mengenangnya.” Banda Aceh, Januari 2016
* Ikhsan Hasbi, Pernah Bergiat di Sanggar Seni Seulaweuet.
Karya Ida Fitri
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/02/21/maop
MAOP menatap seorang wanita dari balik bayang rumah tua. Wanita itu terlihat waspada seperti sadar sedang diperhatikan. Bunyi high heels yang dipakai wanita tersebut menjadi nada yang saling mengejar dengan tarikan napasnya. Wanita itu berhenti sejenak, kemudian melihat kiri kanan. Bahkan menatap ke tempat Maop bersembunyi. Yang terlihat hanya kegelapan.
Terdengar desahan napas lega. Wanita itu kembali melangkah tanpa rasa curiga. Maop tersenyum dari balik bayang, “ Ini saatnya bergerak ….”
***

“Mirah, tak baik perempuan berjalan sendirian di malam hari,” ujar Nek Tu sambil menyugibakong asoe. Wanita berpipi cabi di depannya tersenyum tipis. Nek Tu sudah terlalu uzur untuk mengerti dunia yang maju lebih cepat belakangan ini. Bukankah lelaki dan perempuan memiliki hak yang sama? Apa salahnya seorang perempuan berada di luar pada malam hari? Toh ia hanya menjual kosmetik, bukan menjual diri. Pekerjaannya sebagai seorang SPG di sebuah Mall yang berada di Kota Juang ini, mengharuskan wanita tersebut naik shif malam. Mall tutup pada jam 22. 00 WIB.
“Jangan seperti ibumu,” ujar Nek Tu lain kali. Mirah tak pernah tahu apa yang terjadi pada ibu kandungnya. Yang ia tahu wanita yang dipanggilnya ibu bukanlah ibu biologisnya. Tapi wanita itu akan marah besar kalau Mirah mengungkit hal tersebut. Menurut Nek Tu, wanita yang dipanggilnya Ibu yang menjadi menantunya adalah saudara jauh wanita yang sudah melahirkannya. Wanita itu menitipkan Mirah pada menantunya, kemudian menghilang entah kemana. Mirah segera disusui ibu dan dijadikan anak perempuan sulung di keluarga mereka. Nek Tu sering mengulang-ngulang cerita itu di belakang ibunya. Perempuan itu sudah sangat tua dan mulai linglung, pikir Mirah berusaha menghibur diri. Kakinya saja sudah tidak bisa dibawa berjalan.
Ah! Kaki-kaki Nek Tu-nya pasti sudah terlalu tua untuk mengejar cepatnya perputaran dunia dewasa ini. Bahkan perempuan sudah naik ke bulan. Nek Tu masih tetap di singgasana kebesarannya dan menyugibakong asoe. Singgasana yang dimaksud di sini adalah sebuah kamar belakang yang sengaja dibuat lebih tinggi oleh Bapak. Hanya kamar Nektu yang disangga tiang-tiang di rumah ini. Lengkap dengan guha-guha yang memudahkan Nek Tu buang air kecil atau meludah. Tungkai tuanya sudah kekurangan kalsium, tidak bisa dibawa berjalan lagi. Pantas saja pikirannya hanya berkisar di seputar singgasana saja.
Paling sesekali NekTu mendongeng kisah kepahlawanan Cut Nyak Din atau Keumala Hayati. Nek Tu tak pernah tahu jika seorang aktris telah mendapatkan penghargaan internasional karena berperan sebagai istri Teuku Umar itu. Dan Keumala Hayati dan bahteranya sudah naik ke teater-teater. Saat Nek Tu muda dulu di kampungnya tak ada TV. Ketika ia menjadi tua, matanya tak sanggup lagi untuk beradaptasi dengan kilauan cahaya yang dipancarkan benda persegi empat tersebut. Dan Mirah tak perlu menyalahkan Nek Tu atas segala prinsip hidup yang diyakini perempuan tua tersebut. Bukan pilihan yang bijak untuk menantang Nek Tu. Ia sanggup mengoceh dua hari dua malam. Membicarakan perangai Mirah pada setiap anak cucu yang menggunjinginya. Bahkan ia masih sanggup mendendangkan hal itu sampai Lebaran tahun depan.
Nek Tu memang sudah tua bersama kulitnya yang kian keriput. Membiarkan ia tak ditantang di istananya merupakan keputusan yang bijak. Toh Nek Tu tak akan pernah tahu jadwal kerja Mirah. Kecuali kalau penghuni rumah sudah terlelap semua dan tidak ada yang membukakan pintu untuknya. Mirah tak punya pilihan lain selain mengetuk pintu kamar Nek Tu. Satu hal yang ajaib, pendengaran perempuan tua itu masih sangat baik. Nek Tu akan membukakan jendela kamarnya untuk Mirah. Dan Mirah memanjat masuk lewat jendela dengan menyeret kursi teras ke bawah jendela Nek Tu. Kemarin Mirah sudah menggandakan kunci pintu depan. Kecemasan akan kepergok Nek Tu selesai sudah.
***
Sosok bertubuh tinggi besar itu kembali mengutuk dirinya sendiri. Sungguh ia tidak memilih untuk menjadi begini. Berwujud legam dan berada di bawah bayangan. Siapa sih yang ingin menjadi sosok yang menakutkan? Bahkan oleh anak kecil sekali pun.
“Nyan naMaop, jangan ke situ, Nak.” Suatu waktu, ia mendengar seorang ibu muda menakuti anaknya yang hendak berjalan ke dekat Maop. Ia merasakan nyeri di dadanya kemudian beranjak pergi dari tempat tersebut.
“Maop …, maop …, hitam …, hitam …, seram …, seram!”
Itulah kata-kata yang sering didendangkan orang untuknya. Benar-benar menyedihkan. Padahal sudah banyak legenda di dunia ini. Kenapa ia harus menjadi legenda kegelapan? Mungkin karena fisiknya yang besar dan hitam? Orang-orang memang kerap melabelkan sesuatu sesuai dengan tampilan fisik.
Barbie, untuk sosok perempuan bermata indah dan berambut panjang. Segala kecantikan, kebaikan dan kelembutan melekat pada sosok itu. Arjuna, lelaki gagah yang mampu menaklukkan hati banyak wanita. Hercules, pahlawan gagah putra dewa. Keharuman nama mereka melekat pada fisik yang indah. Sementara Maop? Sosok hitamnya menjadi simbol ketakutan. Mungkin karena fisiknya juga anak dan istrinya pergi meninggalkan dirinya. Betapa menyedihkan berfisik buruk rupa.
Pada suatu senja didapatinya rumah sudah kosong melompong. Maop yang kecapaian sepulang kerja beristirahat sejenak. Mungkin istri dan putrinya sedang berkunjung ke rumah saudara yang berada di ujung desa. Senja telah bewarna saga, istrinya tak kunjung kembali. Ia masuk ke kamar tidur, betapa terkejutnya ia mendapati isi lemari telah kosong. Tergesa Maop menuju ke ujung desa, berharap istrinya ngambek dan mengungsi ke rumah saudaranya. Tapi hanya sepucuk surat yang ditinggalkan istri pada saudaranya.
Lunglai, Maop kembali berjalan pulang ke rumah mereka. “Aku sudah tidak sanggup hidup bersamamu lagi. Jangan pernah mencariku lagi. Wanita yang pernah menjadi istrimu ….” Kalimat itu mengiringi langkah Maop kala senja beranjak ke peraduan malam.
Semenjak kejadian itu, Maop menjadi enggan menampakkan diri di depan umum. Ia merasa gagal sebagai suami. Rasa malu menamparnya ribuan kali. Ia hanya muncul di bawah bayang-bayang. Sembari mengenang anak dan istri yang tak pernah kembali. Makanannya kesedihan dan air mata menjadi pelepas dahaga satu-satunya.
Maop, sosok hitam yang berada di bawah bayang-bayang. Itulah yang dikatakan orang terhadapnya. Siapa pun yang melihatnya akan lari terbirit-birit ketakutan. Pernah sekali waktu seorang pemuda yang hendak buang hajat di sungai melihatnya berdiri di bawah pohon waru. Pemuda itu kabur tanpa sempat menaikkan celananya. Sungguh tak beretika, membuang hajat di badan sungai yang dipakai desa sebelah sebagai sumber air minum, pikir Maop kala itu. Tapi ia terlanjur dikenal sebagai sosok yang menakutkan.
Bosan dengan tuduhan orang-orang terhadap dirinya, Maop akhirnya memutuskan menjadi seperti yang dikatakan mereka.
Jahat, hitam dan legam ….
***
Mirah berjalan cepat di lorong sempit yang mengarah ke rumahnya. Rasa was-was menyelimuti hati. Perasaannya seperti ada yang sedang megikuti terus mengusik hatinya. Mendadak ia berhenti dan mengamati sekeliling. Tak ada apa-apa. Ternyata perasaannya saja yang membuat ia ketakutan sendiri. Setelah menarik napas panjang, dibuangnya rasa takut jauh-jauh. Ia telah dibuat takut oleh bunyi tapak sepatunya sendiri.
Bulan bergantung pucat di angkasa malam. Segumpal awan hitam yang dibawa angin menutupinya perlahan-lahan. Jangkrik bernyanyi dari tanah lapang yang berada di utara. Tiba-tiba langkah Mirah berhenti. Ia tercekat, ingin menjerit, tenggorokannya terasa kering. Pita suaranya lumpuh. Sesosok hitam, legam, tinggi besar sudah berdiri di hadapannya ….
***
Maop memamerkan giginya pada wanita yang sedang ketakutan di depannya. Sungguh ia menikmati ini semua. Ia selalu berandai-anda korbanya adalah istri yang tega meninggalkan Maop dalam kepedihan. Hingga kegelapan mendatanginya. Dan ia bisa mengambil hati korban-korbanya dengan bahagia, kemudian mencampakkannya di jalanan. Ia melakukannya tanpa rasa bersalah.
Maop berjalan mendekati wanita yang berparas pucat tesebut. Dipegangnya bahu sang wanita yang tergetar ketakutan itu. Seperti biasa kuku-kuku tajamnya akan menghunjam ke dada kiri korbannya. Ketika kukunya mengenai kulit wanita tersebut, Maop tersentak kaget. Tangannya seperti tersetrum ribuan volt listrik. Ia mundur ke belakang, menatap korbannya yang pasrah memejamkan mata.
Wajah itu …, Maop merasakan nyeri di ulu hatinya. Ia mendekap dada kiri. Kemudian terduduk di hadapan wanita yang mulai membuka matanya perlahan-lahan. Tatapan mata wanita itu semakin menusuk dada kiri Maop. Wanita itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Maop merasakan sakit yang tiada dua. Wanita itu yang tak lain adalah Mirah itu menyodorkan botol air mineral pada sosok tinggi besar yang kini berlutut kesakitan di depannya.
Dengan tangan tergetar maop menerima benda tersebut. Tanpa berkata-kata Mirah berjalan meninggalkan makhluk itu. Maop masih bersimpuh sambil menatap botol air mineral yang diberikan Mirah. Bunyi langkah yang menggunakan high heels terdengar semakin menjauh….
* Ida Fitri, lahir di Bireuen 25 Agustus. Sekarang menjadi Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Aceh Timur.

Kau ambil kaca berlayar biru
Ada dunia yang berbeda di sana
Beribu manusia bergambar di situ
Seperti ada kehidupan semu
Yang terlukis di layar biru
Dunia kau skarang berbeda
Dunia yang tak ada macet
Tak ada polusi
Di san bebas berekspresi
Itulah dunia yang orang ingin
Itulah dunia maya.

*safrizal,hanyalah seorang yang menulis puisi di waktu senngang,
Dan kini dia juga mengelola website lirik puisi.