Articles by "Cerpen"
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/01/31/celaka
SUNGGUH, tidak ada yang lebih kha daripada Mustafa Musa. Bahkan jika ia berjalan di pasar, seakan bukan hanya pedagang yang menunduk, tapi juga tokotokonya sekalian. Sayur mayur dan lauk pauk yang berserak tumpuk segera berkumpul,menyambut Mustafa Musa. Yassalam, inilah lelaki paling hebat sepanjang sejarah ditemukannya pulau Sumatera oleh bajak laut. Tidak ada selain dia. Mustafa Musa berhasil menguasai Pasar Selatan hanya berbilang hari dari rencana penaklukannya semula.

Padahal ini pasar dikenal bengal dan kejam.Ketika baru terpilih ia berjanji akan emurahkan harga pangan sandang, meringankan harga mahar, mensejahterakan janda-janda, dan tentu saja dibumbui sekelindan janji lainnya. Sebenarnya itu tidak perlu, toh, tidak ada yang berani protes sekalipun ia ingkar.
Hanya dua orang yang berani bersikeras menuntut: Sabiran dan Malik Husen. Keduanya telah berpulang ke pangkuan tanah. Usut punya usut, mereka portes agar Mustafa Musa segera dienyahkan. Mereka seniwen setelah tanahnya disita pasukan Mustafa untuk kepentingan pembangunan. Sekarang Mustafa sedang menyusun rencana penabalan diri sebagai Tuan Abadi Kuasa. Namun rencana itu enjadi kacau. Puncanya setelah ia mendapat kabar pada Senin malam, saat sedang duduk di kedai kopi Asbabun Nisa. Saat itu dia teringat teman baiknya,Marzak. Marzak adalah eorang guru bahasa, bajingan ini kepercayaannya, sudah beranak dua tapi masih sukaenggoda cewek-cewek perempuan saat mengajar di kelas.
“Itu hanya ramalan, Tuanku. Jangan terlalu percaya. Zulkifli itu memang penyebar berita buruk,” ujar Marzak meringankan beban pikiran temannya. “Tapi aku sudah melihat kenyataannya,” kata Mustafa Musa ngilu. “Apakah tidak sebaiknya Zulkifli kita enyahkan saja? Apa susahnya bagi Tuan? Dia telah membuat keresahan.” Demikianlah! Kabar yang berembus Zulkifli sedang dicari pihak Mustafa Musa. Orang-orang yang difitnah tidak perlu membela diri, saudara. Kita hanya perlu balas dendam,” ujar Zulkifli kepada teman-temannya sesama pedagang. Malam itu, Senin, bulan masih sabit. Mustafa Musa duduk sendiri di bangku panjang yang melidah dari pintu ke dindingdepan kedai kopi Asbabun Nisa.
“Tuanku, Mustafa Musa!”
Terloncat dari bangku Mustafa Musa mendengar suara itu dan segera memasang kuda-kuda. “Tak perlu bersiaga. Saya tidak akan membunuh Tuan.” Zulkifli tertawa. “Kau selalu membuat hidupku dalam keadaan berenang-renang, Zul,” ucap Mustafa Musa. Dia duduk kembali. “Sudah demikian adanya, Tuanku. Anak-anak Tuan, cobalah lihat, semakin ta terkendalikan. Semalam saya lihat si sulung sedang memadu cinta di Selatan Tiga.
Tak wayang, lelaki yang memeluknya itu....!” “Lelaki? Kau berdusta,” hardik mata Mustafa Musa melebar, suaranya menggelegar. “Memang tak ada kata percaya dalam kamus Tuan untuk saya. Sama seperti ketika anak-anak lelaki Tuan saya kata akan menjadi banci. Tuan tak terima. Hari ini, jadi banci mereka. Siapa lagi pewaris Tuan?” “Aku tidak perlu cerita itu, Zulkifli.Katakan padaku siapa lelaki yang memelukSalim Wahidin!”
“Tuan tak akan percaya,” Zulkifli mengeraskan suara. “Kamu salah mata!”
“Mata saya masih sangat terang, Tuan.”
“Celaka! Celaka!”
***
Marzak menyusun rencana untuk menumpas Zulkifli. Kedekatannya dengan Mustafa Musa membuat ia berani mengambil keputusan sendiri. Di pasar, diam-diam dia kerap memerhatikan gelagat Zulkifli yang khusyuk berjualan peci. Nun di kamar kehormatan, Mustafa Musa terbaring sakit sudah sepekan. Anak sulungnya, Salim Wahidin sudah terganggu jiwanya setelah dihantam benda tumpul di tengkuknya oleh orang tidak dikenal. Seorang pengawal buru-buru masuk menyampaikan, “Zulkifli telah mati, Tuan. Di tangan Marzak!” “Bagaimana bisa?” Mustafa Musa terkejut bangkit sekalipun masih lemah. “Kami tidak tahu persis. Tapi Marzak sedang dirajam warga Pasar Selatan karena ditemukan sedang bercinta dengananak lelaki kedua Tuan!” Mustafa Musa membeliak tak percaya. Suara lemahnya hanya mengucap,” Celaka! Celaka!”
* Nazar Shah Alam adalah pegiat di Komunitas Jeuneurob
Karya Ikhsan Hasbi
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/02/14/pohon-hasan
SEKIRANYA itu tidak perlu, saya tidak akan mengenangnya,” tulisHayyan dalam sebuah catatan kecil yang kutemukan setelah ia meninggal. Aku melihat ada bentuk gumpalangumpalan awan mendung di buku itu. Kukira airmata. Tetesan itu semakin menggenapkan dugaanku tentang esedihannya, melihat apa yang terjadi setelah ia kembali lebih dari 20 tahun masa perantauannya.

Dulu, di depan gedung serbaguna, ada sebuah panggung yang tidak terlalu lebar, yang sering kami gunakan untuk bermain galah, dengan kerindangan di halaman yang luas, cukup menjadi tempat yang paling menyenangkan bagikami menghabiskan waktu sambil bermain, terutama saat bel jam istirahat di sekolah berbunyi. Panggung itu mengusung duagambar gajah yang saling berhadapan yang dikenal sebagai Meurah Duek. Aku dan teman-teman lainnya akan menggambar persegi seluas panggung itu, lalu kami bagi empat berbentukpersegi.
Membutuhkan dua kelompok untuk memainkan permainan itu. Butuh enam penjaga di tiap garis: masingmasing penjaga di garis horizontal yang searah dengan tangga panggung dan tiga penjaga di garis vertikal.
Penjaga bertugas untuk menghalau setiap orang yang ingin melewati garisgaris itu. Seolah garis horizontal yang berdekatan dengan tangga panggung menjadi pintu utama. Para penjaga ini boleh menyarangkan pukulan serupa membulatkan buku tangan, lalu menghantam punggung lawan, atau serupa tepisan, setidaknya mampu menyentuh lawan main. Marah dan malu sudah risiko, tapi sebisanya tidak boleh meluapkan perasaan itu.
Maka berjalanlah permainan sambil mengacak- ngacak langkah. Seorang penjaga akan mengangkat kedua tangan lebar-lebar untuk menjaga dua pintu yang saling membelah karena akan ada dua pemain yang hendak melewati garis. Jikakedua pemain berhasil menembus penjagaan itu hingga akhir, mereka dinyatakan menang dan diakui lihai menghindari pukulan penjaga.
Namun jika gagal, mereka harus tukar posisi menjadi penjaga. Maka tak urung dalam permainan itu akan terdengar, ‘buk’, disertai ucapan ‘aduh’ atau cacian yang tak jelas arahnya akibat pukulan si penjaga. Wajah mereka akan berubah getir, tersenyum getir, memasang tampang kuat, seolah sudah terbiasa dan sanggup menahan deraan.
Di saat seperti itu, selalu ada yang menertawakan. Entah kenapa pula dalam urusan tertawa, aku jadi berpikir, apakah memang sudah sifat anusia suka menertawakan penderitaan orang lain? Usai bermain, kami akan berkipaskipasan. Baju putih berkeringat melekat di badan. Keringat di jidat menemukan jalur ke dagu dan menetes satu dua. Mengingat sebentar lagi waktu istirahat akan habis dan kami harus masuk kelas, aku akan embasuh tangan dan muka ke kamar mandi yang terletak di luar sekolah, di sebuah bangunan kecil bersebelahan dengan pagar sekolah.
Sebuah sumur dengan cincin di atas permukaan setinggi kurang lebih 50 centi bergolak saat timba bocor kujatuhkan ke dalamnya. Cahaya seringkali mampu menembus celah yang berlubang. Cahaya itu jatuh ke dalam sumur, pantulannya akan jelas terlihat bening. Dan di dasar sumur aku bisa melihat, sapu dan kursi yang berlumut. Usai ritual basuh membasuh itu, aku akan bergegas masuk kelas sebelum guru mengayunkan penggaris kuning laksana ayunan pedang para Kesatria Templar. Setiap jam istirahat, selalu ada alasan bagi kami keluar dari area sekolah.
Sangking seringnya, banyak guru yang tidak sanggup lagi mengingatkan. Kami masih dengan prinsip dasar: makin dilarang makin melanggar. Sembari melingkari jarak untuk menghilangkan jejak akibat larangan jajan di luar sekolah, kami akan meloncati pagar sekolah, terus ke belakang bangunan kuning yang disesaki aliran comberan yang baunya minta ampun.
Bila musim padi menghijau tiba, aku sering merasakan sensasi kesenangan menyambut panorama alami i belakang bangunan kuning itu, palagi dihembus angin persawahan yang mengingatkanku betapa menyenangkan hidup di masa kecil dengan segala keluwesan dan mungkin ketertinggalan—menurut anggapan orang kota yang bagiku terkesan kolot dan tidak tahu menahu. Namun ganggang ang meruapkan bau bacin, sisa insang ikan yang terpotong, kotoran manusia yang ikut melarung di dalamnya dan sampah yang menggenang namun masih mampu bergerak dialirkan air got, menyisakan hal yang paling binal dalam ingatanku: kebiasan manusia adalah menumpuk kotorannyaada satu tempat, lalu dialirkan tanpa memikirkan ke mana muaranya!
Bersama-sama teman sekelas, kami menjadi kuat: kuat menanggung akibat, jika seandainya guru sekolah tahu kami cabut jam istirahat ke pasar; kuat menanggung ingatan, jika seandainya kenangan silam membuat kami sedih dan ingin berkumpul bersama lagi, meskipun di balik ingatan itu kami yakin, absurditas apalagi yang mesti dipertaruhkan untuk melanggengkan lintasan waktu agar abadi antara masa lalu, sekarang dan masa depan!
Dengan baju putih dan celana biru dongker panjang, kami melenggang, layaknya kesumat yang dibiarkan berkeliaran menata dan meluapkan balas dendamnya. Kerumunan orang di pasar membuat kami senang. Canda tawa antar sesama pedagang dan pembeli, menghidupkan kesemarakan yang tidak pernah kudapatkan lagi di masa sekarang.
Apalagi di hari Rabu. Pada hari pekan itu, penjual dan pembeli saling beradu: mulut, harga, harkat dan martabat. Lakon yang mampu menghidupi kesemarakan. Para penjual pernak-pernik hiasan, penjual baju, jilbab, baju dalam, celana dalam, tembikar, parang, pisau, panci, beulangong, dan tak urung jasa tambal barang rumahan itu.
Ada pula penjual obat-obatan, hasil racikan yang barangkali tanpa izin badan resmi, langsung mendagangkan barangnya. Seperti yang kutemukan alam ingatanku: seorang lelaki berkopiah haji yang tak henti-hentinya melambungkan kata-kata. Kadang disertai irama dan nyanyian yang membuat banyak orang betah berlama-lama di dekatnya. Bermodalkan pengeras suara alakadar, cukup untuk mlontarkan kata-katanya di antara ratusan orang yang berjejalan; tangan-tangan yang mengantongi sayur, baju, pisau, pernak-pernik dan apa saja yang bisa dijinjing.
Sedangkan anak-anak seperti kami, dengan tubuh mungil, sebisa mungkin merenggangi celah di antara kaki panjang orang dewasa, atau sekedar mengintip cara bertutur, seni berdagang orang-orang yang punya sejuta kalimat alternatif, yang ujung-ujungnya supaya dagangannya laku!
Mengenangnya saja bagiku sudah cukup menghibur. Sekalian dengan kenangan itu, aku pun diingatkan bahwa tak ada jalan kembali, selain meretas yang silam dalam ingatan. Sepulang dari pasar, kami akan membawa berbagai hal yang bisa kami beli, bermodalkan jajan atau sisa jajan kemarin yang sudah bertambah dengan jajan hari ini. Ada yang membawa pulpen dengan gambar menarik—yang kemudian dianggap sudah dibumbui dengan bahan narkotik.
Sedangkan aku, jarang membeli hal-hal semacam itu. Aku terbiasa membeli mie caluek Kak Yam. Aku tidak mampu meraba dalam ingatanku tentang ketepatan tanggal, barangkali hanya tahun. Pohon hasan, satu-satunya pohon yang tumbuh dihalaman yang luas agak ke kiri dari panggung tempat kami bermain galah. Pohon itu cukup rindang dan besar. Butuh sekitar enam atau tujuh lengan orang dewasa untuk bisa memeluk pohon itu. Dahan-dahannya yang besar mampu menghalau pendaran cahaya matahari di hampir seluruh permukaan lapangan.
Di bawah pohon itu, kami sering melepas canda tawa. Menyantap mie caluek atau memamerkan aneka benda menarik. Tak jarang pula pohon itu adi tempat bagi teman-teman atau senior mencantumkan tulisan asal-asalan.Misalnya, Mirna yang disertai lambang love disanding dengan nama Iqbal; meski kadang-kadang yang menulis bukanlah yang punya nama. terlihat juga bentuk serupa cakaran akibat keisengan orang yang tidak bertanggung jawab. Seolah pohon hasan menjadi dinding curahan perasaan atau amuk mereka yang putus asa. Lainnya adalah hiasan tak layak, menjelma dalam kebutaan fantasi anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa.
Teman-teman yang lincah akan berjinjing di dahan dan sebentuk akarakaran untuk memanjat hingga ke dahannya yang lebih besar. Aku tidak ernah memanjat pohon itu, teringat cerita beberapa teman kalau di tengahtengah pohon itu, ada lubang tempat ular bersarang. Lubang itu barangkali dengan gampang menjelaskan: pohon hasan itu memang besar, namun tidak sekokoh yang dibayangkan.
Di musim yang aku tidak tahunamanya, putik-putik kuning akan berjatuhan, seolah salju di negeri empat musim. Indah sekali! Hingga lapangan yang luas kehijauan jadi menguning, kuning-kuning kehijauan. Sensasi putik-putik kuning yang luruh membuat kami sering berandai-andai, membuka ancing baju, dibantu angin yang akan menggerakkan kemeja putih kami yang tidak terkancing. Putikputik kuning itu jatuh seperti dalam adegan film India, lalu kami berputarputar menyambutnya.
Alangkah senangnya! elihat kembali pohon hasan itu dalam ingatan, aku membayangkan Taman Nasional Sequoia di California yang dipenuhi pohon-pohon raksasa. Dulu, saat panggung di depan gedung serbaguna itu di puncak kejayaannya, ada ragam pementasan: mulai dari konser, penampilanpenampilan spektakuler hingga tempat upacara. Pohon hasan itu cukup membantu dan menjadi tempat favorit remaja atau orang-orang dewasa agar bisa menonton pertunjukan di panggung secara leluasa.
Namun yang membuatku sering bertanya-tanya, kenapa pula pohon itu dinamakan seperti nama manusia, Hasan! Aku tak sempat mendapatkan jawaban itu, hingga suatu ketika, saat pulang ke kampung, aku tak lagi melihat pohon hasan di tengah halaman gedung serbaguna yang luas itu. Di atas jejak pohon hasan itu sudah dibentuk semacam undakan dengan patung seekor gajah yang mengangkat kedua kakinya dan mulut yang seolah sedang meniup sebuah sirene. Sesaat aku berpikir, ‘oh barangkali sang penguasa menebang pohon hasan untuk mengembalikan lambang gajah pada kota ini.’
Namun beberapa bulan kemudian, anggapanku itu keliru. Ketika aku kembali dengan wajah cerah, setelah merantau sekian tahun, aku menemukan lahan di depan gedung serbaguna itu sudah rata. Pohon hasan telah lama ditebang, barangkali karena sewaktu-waktu dahannya yang rapuh bisa enimpa orang yang berdiri di bawahnya, lalu untuk mudahnya diganti dengan patung gajah.
Namun yang tersisa alam pandanganku kali ini adalah kecerobohan. Kecerobohan yang barangkali tidak termaafkan. Tak ada lagi pohon hasan, tak ada lagi patung gajah. Lantas, aku hanya bisa berpendapat, ‘O, barangkali sang penguasa tak memerlukan lagi jasa gajah, hingga lambang itu dihancurkan pula; dan jelas pula tak memerlukan kerindangan pohon hasan. Yang jelas, ingatan tentang kenangan itu tak akan mampu dibebat.’ Sembari berkelana sesaat ke masa lalu, mataku masih menghujam pada catatan kecil milik Hayyan, “Sekiranya itu tidak perlu, saya tidak akan mengenangnya.” Banda Aceh, Januari 2016
* Ikhsan Hasbi, Pernah Bergiat di Sanggar Seni Seulaweuet.
Karya Ida Fitri
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/02/21/maop
MAOP menatap seorang wanita dari balik bayang rumah tua. Wanita itu terlihat waspada seperti sadar sedang diperhatikan. Bunyi high heels yang dipakai wanita tersebut menjadi nada yang saling mengejar dengan tarikan napasnya. Wanita itu berhenti sejenak, kemudian melihat kiri kanan. Bahkan menatap ke tempat Maop bersembunyi. Yang terlihat hanya kegelapan.
Terdengar desahan napas lega. Wanita itu kembali melangkah tanpa rasa curiga. Maop tersenyum dari balik bayang, “ Ini saatnya bergerak ….”
***

“Mirah, tak baik perempuan berjalan sendirian di malam hari,” ujar Nek Tu sambil menyugibakong asoe. Wanita berpipi cabi di depannya tersenyum tipis. Nek Tu sudah terlalu uzur untuk mengerti dunia yang maju lebih cepat belakangan ini. Bukankah lelaki dan perempuan memiliki hak yang sama? Apa salahnya seorang perempuan berada di luar pada malam hari? Toh ia hanya menjual kosmetik, bukan menjual diri. Pekerjaannya sebagai seorang SPG di sebuah Mall yang berada di Kota Juang ini, mengharuskan wanita tersebut naik shif malam. Mall tutup pada jam 22. 00 WIB.
“Jangan seperti ibumu,” ujar Nek Tu lain kali. Mirah tak pernah tahu apa yang terjadi pada ibu kandungnya. Yang ia tahu wanita yang dipanggilnya ibu bukanlah ibu biologisnya. Tapi wanita itu akan marah besar kalau Mirah mengungkit hal tersebut. Menurut Nek Tu, wanita yang dipanggilnya Ibu yang menjadi menantunya adalah saudara jauh wanita yang sudah melahirkannya. Wanita itu menitipkan Mirah pada menantunya, kemudian menghilang entah kemana. Mirah segera disusui ibu dan dijadikan anak perempuan sulung di keluarga mereka. Nek Tu sering mengulang-ngulang cerita itu di belakang ibunya. Perempuan itu sudah sangat tua dan mulai linglung, pikir Mirah berusaha menghibur diri. Kakinya saja sudah tidak bisa dibawa berjalan.
Ah! Kaki-kaki Nek Tu-nya pasti sudah terlalu tua untuk mengejar cepatnya perputaran dunia dewasa ini. Bahkan perempuan sudah naik ke bulan. Nek Tu masih tetap di singgasana kebesarannya dan menyugibakong asoe. Singgasana yang dimaksud di sini adalah sebuah kamar belakang yang sengaja dibuat lebih tinggi oleh Bapak. Hanya kamar Nektu yang disangga tiang-tiang di rumah ini. Lengkap dengan guha-guha yang memudahkan Nek Tu buang air kecil atau meludah. Tungkai tuanya sudah kekurangan kalsium, tidak bisa dibawa berjalan lagi. Pantas saja pikirannya hanya berkisar di seputar singgasana saja.
Paling sesekali NekTu mendongeng kisah kepahlawanan Cut Nyak Din atau Keumala Hayati. Nek Tu tak pernah tahu jika seorang aktris telah mendapatkan penghargaan internasional karena berperan sebagai istri Teuku Umar itu. Dan Keumala Hayati dan bahteranya sudah naik ke teater-teater. Saat Nek Tu muda dulu di kampungnya tak ada TV. Ketika ia menjadi tua, matanya tak sanggup lagi untuk beradaptasi dengan kilauan cahaya yang dipancarkan benda persegi empat tersebut. Dan Mirah tak perlu menyalahkan Nek Tu atas segala prinsip hidup yang diyakini perempuan tua tersebut. Bukan pilihan yang bijak untuk menantang Nek Tu. Ia sanggup mengoceh dua hari dua malam. Membicarakan perangai Mirah pada setiap anak cucu yang menggunjinginya. Bahkan ia masih sanggup mendendangkan hal itu sampai Lebaran tahun depan.
Nek Tu memang sudah tua bersama kulitnya yang kian keriput. Membiarkan ia tak ditantang di istananya merupakan keputusan yang bijak. Toh Nek Tu tak akan pernah tahu jadwal kerja Mirah. Kecuali kalau penghuni rumah sudah terlelap semua dan tidak ada yang membukakan pintu untuknya. Mirah tak punya pilihan lain selain mengetuk pintu kamar Nek Tu. Satu hal yang ajaib, pendengaran perempuan tua itu masih sangat baik. Nek Tu akan membukakan jendela kamarnya untuk Mirah. Dan Mirah memanjat masuk lewat jendela dengan menyeret kursi teras ke bawah jendela Nek Tu. Kemarin Mirah sudah menggandakan kunci pintu depan. Kecemasan akan kepergok Nek Tu selesai sudah.
***
Sosok bertubuh tinggi besar itu kembali mengutuk dirinya sendiri. Sungguh ia tidak memilih untuk menjadi begini. Berwujud legam dan berada di bawah bayangan. Siapa sih yang ingin menjadi sosok yang menakutkan? Bahkan oleh anak kecil sekali pun.
“Nyan naMaop, jangan ke situ, Nak.” Suatu waktu, ia mendengar seorang ibu muda menakuti anaknya yang hendak berjalan ke dekat Maop. Ia merasakan nyeri di dadanya kemudian beranjak pergi dari tempat tersebut.
“Maop …, maop …, hitam …, hitam …, seram …, seram!”
Itulah kata-kata yang sering didendangkan orang untuknya. Benar-benar menyedihkan. Padahal sudah banyak legenda di dunia ini. Kenapa ia harus menjadi legenda kegelapan? Mungkin karena fisiknya yang besar dan hitam? Orang-orang memang kerap melabelkan sesuatu sesuai dengan tampilan fisik.
Barbie, untuk sosok perempuan bermata indah dan berambut panjang. Segala kecantikan, kebaikan dan kelembutan melekat pada sosok itu. Arjuna, lelaki gagah yang mampu menaklukkan hati banyak wanita. Hercules, pahlawan gagah putra dewa. Keharuman nama mereka melekat pada fisik yang indah. Sementara Maop? Sosok hitamnya menjadi simbol ketakutan. Mungkin karena fisiknya juga anak dan istrinya pergi meninggalkan dirinya. Betapa menyedihkan berfisik buruk rupa.
Pada suatu senja didapatinya rumah sudah kosong melompong. Maop yang kecapaian sepulang kerja beristirahat sejenak. Mungkin istri dan putrinya sedang berkunjung ke rumah saudara yang berada di ujung desa. Senja telah bewarna saga, istrinya tak kunjung kembali. Ia masuk ke kamar tidur, betapa terkejutnya ia mendapati isi lemari telah kosong. Tergesa Maop menuju ke ujung desa, berharap istrinya ngambek dan mengungsi ke rumah saudaranya. Tapi hanya sepucuk surat yang ditinggalkan istri pada saudaranya.
Lunglai, Maop kembali berjalan pulang ke rumah mereka. “Aku sudah tidak sanggup hidup bersamamu lagi. Jangan pernah mencariku lagi. Wanita yang pernah menjadi istrimu ….” Kalimat itu mengiringi langkah Maop kala senja beranjak ke peraduan malam.
Semenjak kejadian itu, Maop menjadi enggan menampakkan diri di depan umum. Ia merasa gagal sebagai suami. Rasa malu menamparnya ribuan kali. Ia hanya muncul di bawah bayang-bayang. Sembari mengenang anak dan istri yang tak pernah kembali. Makanannya kesedihan dan air mata menjadi pelepas dahaga satu-satunya.
Maop, sosok hitam yang berada di bawah bayang-bayang. Itulah yang dikatakan orang terhadapnya. Siapa pun yang melihatnya akan lari terbirit-birit ketakutan. Pernah sekali waktu seorang pemuda yang hendak buang hajat di sungai melihatnya berdiri di bawah pohon waru. Pemuda itu kabur tanpa sempat menaikkan celananya. Sungguh tak beretika, membuang hajat di badan sungai yang dipakai desa sebelah sebagai sumber air minum, pikir Maop kala itu. Tapi ia terlanjur dikenal sebagai sosok yang menakutkan.
Bosan dengan tuduhan orang-orang terhadap dirinya, Maop akhirnya memutuskan menjadi seperti yang dikatakan mereka.
Jahat, hitam dan legam ….
***
Mirah berjalan cepat di lorong sempit yang mengarah ke rumahnya. Rasa was-was menyelimuti hati. Perasaannya seperti ada yang sedang megikuti terus mengusik hatinya. Mendadak ia berhenti dan mengamati sekeliling. Tak ada apa-apa. Ternyata perasaannya saja yang membuat ia ketakutan sendiri. Setelah menarik napas panjang, dibuangnya rasa takut jauh-jauh. Ia telah dibuat takut oleh bunyi tapak sepatunya sendiri.
Bulan bergantung pucat di angkasa malam. Segumpal awan hitam yang dibawa angin menutupinya perlahan-lahan. Jangkrik bernyanyi dari tanah lapang yang berada di utara. Tiba-tiba langkah Mirah berhenti. Ia tercekat, ingin menjerit, tenggorokannya terasa kering. Pita suaranya lumpuh. Sesosok hitam, legam, tinggi besar sudah berdiri di hadapannya ….
***
Maop memamerkan giginya pada wanita yang sedang ketakutan di depannya. Sungguh ia menikmati ini semua. Ia selalu berandai-anda korbanya adalah istri yang tega meninggalkan Maop dalam kepedihan. Hingga kegelapan mendatanginya. Dan ia bisa mengambil hati korban-korbanya dengan bahagia, kemudian mencampakkannya di jalanan. Ia melakukannya tanpa rasa bersalah.
Maop berjalan mendekati wanita yang berparas pucat tesebut. Dipegangnya bahu sang wanita yang tergetar ketakutan itu. Seperti biasa kuku-kuku tajamnya akan menghunjam ke dada kiri korbannya. Ketika kukunya mengenai kulit wanita tersebut, Maop tersentak kaget. Tangannya seperti tersetrum ribuan volt listrik. Ia mundur ke belakang, menatap korbannya yang pasrah memejamkan mata.
Wajah itu …, Maop merasakan nyeri di ulu hatinya. Ia mendekap dada kiri. Kemudian terduduk di hadapan wanita yang mulai membuka matanya perlahan-lahan. Tatapan mata wanita itu semakin menusuk dada kiri Maop. Wanita itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Maop merasakan sakit yang tiada dua. Wanita itu yang tak lain adalah Mirah itu menyodorkan botol air mineral pada sosok tinggi besar yang kini berlutut kesakitan di depannya.
Dengan tangan tergetar maop menerima benda tersebut. Tanpa berkata-kata Mirah berjalan meninggalkan makhluk itu. Maop masih bersimpuh sambil menatap botol air mineral yang diberikan Mirah. Bunyi langkah yang menggunakan high heels terdengar semakin menjauh….
* Ida Fitri, lahir di Bireuen 25 Agustus. Sekarang menjadi Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Aceh Timur.
Karya Dina Triani GA
AGUSTIAN merasa begitu lelah setelah seharian memindahkan barang – barangnya dari tempat tinggal yang lama ke rumah kontrakan baru. Pinggangnya terasa linu dan kakinya pegal-pegal. Dari pagi hingga sore hari, Agustian tak behenti mengangkat dus– dus yang berisi barang keperluannya.
Ini adalah kepindahannya yang kelima, setelah sebelumnya ia sempat berpindah– pindah tempat kos dan akhirnya memilih mengontrak rumah. Alasannya kali ini adalah agar ia lebih punya privasi. Ia bisa bebas mengatur jadwal pulang tanpa mengusik ibu kos, tidak terikat piket membersihkan WC, pakaian di jemuran tak akan hilang atau tertukar dengan milik penghuni kos lainnya dan yang paling penting ia punya ruangan untuk meletakkan semua barang–barang pribadinya.
Rumah kontrakan yang baru dihuni ini berukuran tidak begitu besar. Cukuplah untuk pria lajang seperti dirinya. Memiliki dua kamar tidur, kamar mandi merangkap tempat cuci baju, sebuah dapur dan ruang tamu yang menyatu dengan ruang makan. Rumah itu letaknya di ujung sebuah gang sempit. Bangunannya tua, tapi baru saja di cat kembali oleh sang pemilik rumah. Langit – langit terasnya udah lapuk sehingga dijadikan sarang oleh burung. Walau begitu, hawa di ruang rumah itu begitu sejuk.
Mungkin karena memiliki banyak jendela ehingga angin bebas bersliweran. Agustian mulai terkantuk – kantuk akibat kecapean. Ia bersandar di tepi ranjang sambil memandang dus – dus yang masih berserakan di lantai. Ditengah rasa kantuk yang melanda, ia sempat berpikir bagaimana bisa menyelesaikan semua pekerjaan membereskan barang seorang diri. Rusli, yang pernah menjadi teman satu kosnya hari ini sama sekali tidak bisa dimintai untuk membantu karena terbentur jadwal kuliah.
Sedangkan Herman, teman satu kamarnya dulu edang pulang kampung. Jadilah dia harus melakukan semua perkejaan seorang diri. Sial! Begitu umpatnya dalam hati. Tenggorokannya tiba – tiba terasa begitu kering. Ia bangkit dari duduknya dan mengambil sebotol air mineral dari dalam tas ransel. Sebelum ia meneguk minuman, pandangan mata Agustian menangkap sebuah bingkai yang terpasang terbalik di dinding kamar. Agustian menduga bahwa bingkai yang entah foto atau lukisan itu pastilah milik si pemilik rumah yang belum sempat dipindahkan. Agustian berjalan mendekati an meraih bingkai itu.
Ketika ia membalik untuk melihat apa yang ada padabingkai itu, tampak sebuah foto. Foto hitam putih seorang wanita setengah badan. Wanita itu memiliki rambut ikal yang diikat kebelakang. Ciri khas model rambut tahun enam puluhan. Matanya tajam dan senyumnya samar. Wanita itu tampak seperti berusia sekitar 25 tahun menurut Agustian. Usia yang hampir sama dengan sianya sekarang. Setelah mengamati foto itu beberapa saat, Agustian kembali menggantungkan foto itu pada tempatnya. Ia tidak membalikkan posisi foto itu seperti semula, tapi membuat foto itu jadi bisa terlihat oleh dirinya.
Setelah itu, barulah ia meneguk minumannya. Tenggorokannya kini sudah basah oleh aliran air mineral. Rasa lelahnya berangsur –angsur hilang. Sebelum malam tiba, pemuda ini berharap sudah menyelesaikan semua tugas membongkar semua dus karena esok pagi ia akan segera masuk kerja. Malam pun tiba. Diluar angin kencang menderu–deru. Agustian berada di kamarnya seorang diri setelah membereskan semua barang –barang pindahannya.
Sepertinya akan ada badai, begitu pikir Agus ketikamendegar suara geledek dari sebelah utara. Angin menerpa daun jendela kamarnya sehingga menimbulkan suara. Hujan akan segera turun. Suara air yang jatuh dari langit punmulai terdengar dari atas genting. Hujan semakin deras dan petir menyambar – nyambar. Agustian terpaku di tempat duduknya. Rasa sepi mulai menyelimuti.
Tidak ada suara Herman atau Rusli yang biasa bersenda gurau di dalam kamar tidurnya saat ini. Yang ada hanyalah suara rintik hujan dan hembusan angin yang ditiup dari kisi – kisi jendela. Agus memutar – mutar cangkir tehnya diatas meja. Tatapan matanya tiba – tiba tertuju pada foto wanita itu lagi. Agus mengamatinya lekat – lekat. Pancaran wajahnya begitu dingin. Sedingin kamarnya kini. Sorot matanya yang tajam menunjukkan bahwa wanita itu punya pribadi yang keras.
Senyumnya sinis. Wanita itu sama sekali tidak ramah. Selagi petir menggelegar, Agustian bertanya – tanya dalam hati mengapa fototua wanita itu ada di kamarnya. Mengapa si pemilik rumah sampai lupa memindahkannya? Mungkinkah sengaja tidak dipindahkan atau ada sesuatu dengan foto itu? Agustian mulai menduga – duga, siapa tau wanita dalama foto itu adalah wanita jahat. Mungkin dia seorang pembunuhatau ... seorang psikopat! Bulu kuduk Agustian seketika berdiri. Hatinya tiba – tiba menjadi ciut. Pikirannya dipenuhi dengan hal – hal yang membuat ia semakin takut.
Bisa saja foto itu sengaja ditinggalkan pemiliknya untuk meninggalkan kenangan buruk. Bisa juga karena foto itu membawa kesialan bagi penghunirumah ini sebelumnya. Pikiran Agus semakin kalut. Malam itu menjadi malam yang sangat tidak mengesankan baginya. Tinggal sendirian ternayata tak selamanya menyenangkan. Pagi harinya, Agustian benar – benar tidak konsentrasi dalam menyelesaikan tugas kantornya. Selainkurang tidur, juga karena rasa penasaran terhadap foto wanita itu. Agus berencana mencari tahu, siapa esungguhnya wanita itu.
Maka, sepulang dari kantor, Agus segera mampir ke tempa kosnya yang lama untuk menemui Rusli. Mungkin Rusli bisa membantunya mencari tahu, begitu pikir Agus. “ Wajahnya menyimpan sejuta misteri, “ kata Agus ketika bertemu Rusli. “ Sorot matanya seolah menghujam ke jantung. “ “ Apakah ada foto lain selain foto dirinya? “ tanya Rusli ikut penasaran. Agus menggeleng cepat, “ Kalau ada, mungkin aku tak securiga ini. Pasti ada apa – apanya dengan wanita itu. “ Rusli mengurut – urut kening, “ Aneh juga. “ “ Aku khawatir kalau rumah itupernah terjadi pembunuhan, “ suara Agus parau. “ Harga sewa rumah itu tergolong murah dibandingkan rumah – rumah lain yang pernah kukunjungi. Rumah itu tidak buruk.
Makanya aku langsung tertarik. “ “ Apa kau pernah bertanya engapa rumah itu dikontrakkan pada pemiliknya? “ tanya Rusli penuh seledik bak detektif. “ Biasanya si pemilik rumah suka cerita alasan rumah mereka dikontakkan atau dijual. “ “ Tidak, “ jawab Agus. “ Dia hanya cerita kalau semua anaknya sudah menikah. Rumah itu rencananya akan dijual kalau ada yang berminat. Alasan dijual karena mereka ingin tinggal dirumah anak bungsunya. “ “ Hmmm.... “ Rusli tampak berpikir – pikir
“ Mereka adalah sepasang suami istri yang sudah senja usianya, “ Agus melanjutkan. “ Mungkin mereka sudah tak mampu merawat rumah itu lagi. “ “ Siapa nama pemilik rumah itu, Gus? “ tanya Rusli setelah beberapa saat terdiam. “ Wahyu. Wahyu Sulaiman, “ jawab Agus.
Rusli terdiam lagi. Ia tampak berpikir – pikir namun seperti tidak menemukan titik terang. “ Aku ada ide, “ kata Rusli kemudian. “ Apa? “ tanya Agus sambil mendekatkan wajahnya. “ Kau bisa melakukan sedikit wawancara dengan tetangga rumahmu yang baru, “ jawab Rusli. “ Pastinya jangan sampai menimbulkan kecurigaan agar rahasia ini bisa terungkap. “ Agustian mengacungkan jempolnya. Rasanya ia sudah tak sabar lagi ingin segera melakukan wawancara itu. Agus sudah membayangkan bahwa betapa hebohnya dunia jika akhirnya seorang pembunuh yang sangat keji, yang telah menghilang berpuluh – puluh tahun berhasil ditemukan.
Meski hanya sebuah potret. Seminggu sudah berlalu. Agustian belum juga melakukan wawancara dengan para tetangga perihal wanita misterius dalam foto itu. Kesibukan kerja serta kegiatan ikut kelas catur membuat Agus menunda wawancara. Walau begitu, pikirannya tetap tak bisa lepas dari sosok wanita itu. Setiap bangun pagi dan menjelang tidur malam, Agus akan melihat kembali fotoitu. Mengamati, meneniliti dan membayangkan apa yang terjadi dengan rumah yang sekarang ia huni.
Hingga tibalah suatu hari, sebuah motor Vespa warna abu – abu tua berhenti tepat di depan rumahnya. Dari jendela ruang tamu, Agustian melihat seorang pria paruh baya turun dari motornya. Agustian mengamati wajahnya dengan seksama. Siapa dia? tanya Agus dalam hati. Sungguh dia tidak mengenali pria itu sama sekali. Pria itu mengucapkan salam sebelum Agus membukakan pintu untuknya. Maaf... “ ucap Agustian. “ Bapak mencari siapa ya? “ Pria itu mengulurkan tangan sambil berkata, “ Saya Mirza, anak sulung apak Wahyu. “ Agustian menyambut uluran tangannya, “ Saya Agustian. Oh, bapak anak pak Wahyu pemilik rumah ini ya? “ Pria paruh baya itu kembali tersenyum, “ Ya, betul. “ Agustian segera mempersilahkan tamunya masuk.
Ruang tamunya hanya terdiri dari dua buah kursi rotan yang sudah lapuk akibat dimakan Rayap. Kursi yang ia beli saat pertama kuliah sebagai tempat duduk saat belajar di kamar kosnya. Setelah keduanya duduk, pak Mirza berkata: “ Begini dik... dik siapa tadi? “ Agustian, “ sambut Agus. “ Panggil saja Agus. “ Pak Mirza mengagguk, lalu melanjutkan, “ Begini dik Agus. Maksud kedatangan saya kemari adalah untuk mengambil barang rang tua saya yang ertinggal. “
Agustian tampak bingung. Ia merasa tak ada satu barang pun di rumah itu yang bukan miliknya kini. Rumah itu benar – benar kosong saat ia pertama kali masuk, kecuali... foto. Ya, foto. Hanya sebuah foto berbingkai kayu. Foto yang menyita perhatiannya elakangan ini. “ Ibu saya melupakan fotonya di kamar tidur, “ suara pak Mirza memecah keheningan. “ Waktu pindah, ibu tidak ingat ada foto yang tidak ikut terbawa. “
Alis Agustian bertaut, “ Foto? Apakah foto hitam putih seorang wanita yang bapak maksudkan? “ Pak Mirza mengangguk, “ Iya,betul dik. “ Agustian menatap bola mata pak irza dalam - dalam dan bertanya lagi, “ Kalau boleh saya tahu, siapa wanita alam fotoitu, pak? “ Pak Mirza menyunggingkan senyuman, “ Wanita itu adalah ibu saya. Itu foto waktu beliau memperoleh mendali Perunggu untuk cabang olah raga tenis meja pada kegiatan Pekan Olah Raga Nasional. Itu foto yang paling berkesan bagi beliau.
Makanya saya diminta untuk mengambilnya sekarang. “ Agustian masih belum percaya dengan ucapan yang dikatan pak Mirza barusan. Seminggu lalu dia telah menebak bahwa wanita yang ada dalam foto itu adalah seorang pembunuh. Bahkan, semenit sebelum pak Mirza berkunjung ke rumahnya pun, Agus belum merubah penilaiannya itu.
Namun kini ia dibikin terkejut. Wanita itu adalah ibu pak Mirza yang tak lain pemilik rumah yang sekarang ia sewa. Seorang mantan atlit tenis meja yang pernah berjaya di tahun enam puluhan. “ Inikahfoto ibu anda, pak? “ tanya Agustian setelah menyerahkan fotoberbingkai kayu itu kepada pak Mirza. “ Iya, dik Agus, “ jawab pak Mirza tenang. “ Dialah ibu saya. “ Agustian menelan ludah. Ia amati lagi foto yang kini ada di tangan lelaki paruh baya itu. Tatapan mata itu, ya... tatapan mata yang tajam itu bukanlah tatapan seorang yang bengis atau kejam seperti penilaiannya selama ini. Tapi tatapan seorang pemenang.
Tatapan seorang yang optimis dan penuh percaya diri. Lalu senyum yang menghiasi wajahnya, bukanlah senyuman sinis seperti pendapatnya dahulu. Melainkan sebuah senyum kebahagiaan. Senyum peraih mendali Perunggu! Agustian terduduk di kursi rotannya. Ia menyadari telah keliru menilai seseorang.
Bagaimana bisa ia terlalu cepat menilai foto istri pak Wahyusebagai seorang pembunuh. Seorang detektif profesional pun mungkin tak segampang itu menebak seseorang, apalagi dirinya yang hanya berprofesi sebagai pegawai kantor pos. Agustian enghela nafas. Hatinya kini lega. Rasa takut yang selama ini menghantui kemana pun ia pergi seketika lenyap. Tidak ada lagi bayang – bayang pembunuh di rumahnya kini. Segera ia merogoh ponsel untuk menelepon Rusli. Agustian membeberkan kisah pertemuannya dengan pak Mirza. Diujung sana Rusli pun berkata: “ Makanya Gus, jangan pernah lagi menilai orang dari fotonya.” Ya, betul sekali apa yang dikatakan Rusli. Jangan pernah menilai seseorang darifotonya.
* Dina Triani GA, cerpenis tinggal di Banda Aceh
Karya : Musmarwan Abdullah
MALAM  kian larut. Kau log out dari Facebook, memadamkam laptop, meninggalkan meja baca, menuju ke ranjang, dan terlentang dengan mata menerawang ke langit-langit kamar. Sebelum pulas, dengan lengan menyilang di dahi, kau berpikir, “Besok pagi tentu aku akan terbangun. Begitu sempitnya masa untuk tidur. Seandainya aku tertidur lima ratus tahun, apakah ketika terbangun aku masih bisa membuka Facebook? Apakah ketika itu Facebook masih ada? Apakah saat itu aku masih bisa membaca status-status yang pernah ku-update?”
Akhirnya kau terlelap. Pagi datang. Dan kau masih terlelap. Siang berlalu. Kau masih tidur. Sore berlalu dan malam pun datang lagi. Kau masih terlelap. Posisi tidurmu pun berubah, tidur menyamping. Pagi keesokannya datang lagi, namun kau masih juga tidur pulas. Kini setahun sudah berlalu, kau masih tetap nyenyak; hanya posisi tidur yang berubah-ubah, sekali menyamping ke sebelah sana, lain kali menyamping ke sebelah sini.
Seratus tahun berlalu. Kau masih tertidur. Kini tiga ratus tahun sudah berlalu. Kau masih tetap nyenyak. Sekarang genap lima ratus tahun sudah berlalu. Dan keesokan paginya, pada hari kelima ratus satu, kau pun terjaga. Kau menatap langit-langit kamar: penuh sarang laba-laba. Kau menatap dinding-dinding kamar: semua warna cat dan semen sudah kusam. Kau memasang telinga, mencoba mendengar suara-suara riuhnya anak-anak tetangga seperti pagi-pagi biasa. Namun senyap. Hening. Hanya ada suara-suara burung yang berkicau bagai di pasar burung.
Kau bangkit dari ranjang, berjalan ke luar rumah. “Oh, Tuhan,” desahmu dengan mulut ternganga. Dunia sudah dipadati semak-belukar dan pohon-pohon besar dan tinggi. Binatang-binatang beragam jenis bersiliweran. Burung-burung bertebangan beraneka warna. Rumah-rumah tetangga, kiri-kanan, sudah tiada; hanya menyisakan pertapakan. Dan kau berjalan, berjalan, dan terus berjalan, namun tak kautemui seorang manusia pun. Tak kautemui sebuah mobil pun di jalan yang sudah dipenuhi ilalang, semak dan pohon-pohon. Dunia tanpa manusia. Kau tak tahu bagaimana memahami semua ini. Benar-benar tak ada lagi manusia seorang pun di dunia.
Kau kembali ke rumah dan masuk ke kamar. Di atas meja, laptop masih terbuka, dilapisi debu tebal. Kauhapus debu dari monitor dan keyboardnya. Kaucoba menekan tombol powernya. Blaaa! Laptop menyala. Kaucoba mengakses internetnya. Bisa! Kaucoba membuka akun Facebookmu. Bla! Bisa! “Wow! Luar biasa! Semarak sekali kehidupan di dalam Facebook!” batinmu dengan perasaan girang. Dan ketika kau asyik membuka-buka beranda, wall dan pesan-pesan di inbox, blakkk! Sebuah tulisan muncul menutupi seluruh halaman Facebook. Bunyinya, “Mau meneruskan? Klik di sini!” “Wah! Apaan ini? Dulu tak ada yang begini.” Tapi, karena penasaran, kau mengklik. Klikkk!
Tiba-tiba segenap halaman monitor mengeluarkan cahaya yang sangat benderang hingga matamu silau. Terasa sinar cahaya itu melingkupi seluruh tubuhmu, dan terasa olehmu sinar itu bekerja demikian cepat merubah subtansi tubuhmu, mengurainya, dan lebur menjadi elemen-elemen cahaya hingga kau kehilangan pengertian atas segala yang terjadi. Dunia terus berputar. Sementara kau tertidur dan tak sadarkan diri hingga tiba-tiba kau siuman dan mendapati dunia di sekelilingmu ramai sekali dengan orang-orang, tua-muda, lelaki-perempuan, semuanya tengah menjalani kehidupan yang bahagia.
“Di mana ini?” tanyamu pada orang pertama yang kaujumpai. “Maksud Anda?” perempuan itu balik bertanya. “Maksud saya, apa nama tempat ini, atau kota ini, atau kampung ini. Maksud saya, hmmm., apakah ini sebuah dunia? Maksud saya, aaaaa., kalau memang ini sebuah dunia, apa nama dunia ini?” demikian kau bertanya terbata-bata. “Maksud Anda, nama dunia ini?” perempuan cantik itu seperti tidak yakin pada pertanyaanmu. “Iya,” jawabmu. “Kok Anda tidak tahu?” dia bertanya keheranan dengan air muka makin manis. “Tolonglah, saya benar-benar serius dengan pertanyaan saya,” kau memelas. Lalu perempuan berambut ikal tergerai sepunggung itu menjawab, “Ini dunia maya.”
“Haaa?! Ha-ha-ha! Anda benar-benar gila, Nona! Eh, sori, maksud saya, itu benar-benar jawaban gila!” tergelak kau terpingkal-pingkal. “Maksud Anda, ini benar-benar dunia maya? Lalu apa nama kampung ini, atau kota ini, atau kawasan ini?”
“Ini kawasan Facebook,” jawabnya.
“Yang di sana itu?” tanyamu lagi, dan kau yakin, perempuan itu pasti akan menjawab “Kawasan Twitter”.
“Itu Kawasan Twitter,” jawabnya. “Nah, kan?” pikirmu. “Memang benar-benar gila jagat semesta ini. Bulsyittt!” sambung batinmu.
“Oya, bagaimana caranya kita kembali ke dunia nyata?” kau bertanya kesal.
“Untuk apa kembali ke dunia nyata,” kata dia. “Sunyi sekali sekarang di sana. Sudah tak ada orang pun. Lagi pula sekarang banyak sekali binatang buas di sana. Hutan di mana-mana.”
“Tidak, tidak, Nona! Aku mau kembali ke dunia nyata. Tolonglah, bagaimana caranya?”
“Tidak ada cara.”
“Kok?!”
“Apa kok-kok!”
“Tolonglah! Ini tidak mungkin! Ini kejam sekali. Masak tekhnologi begitu kakunya? Aku ingin kembali ke dunia nyata, tolonglah, Nona. Bagaimana caranya?”
“Pergilah ke kuburan Mark Zuckerberg. Tidur di samping kuburannya. Mintalah wangsit sama dia. Tiap orang akan mendapatkan kode yang berbeda, sama seperti password akun Facebook waktu di dunia nyata.”
Dan kau pun pergi ke kuburan Mark Elliot Zuckerberg. “Bulsyit itu orang! Ada-ada saja akalnya! Bikin dunia ini-lah, bikin dunia itu-lah! Mentang-mentang otaknya encer! Yaaaaaaah!” Kini kau tiba di kuburan Mark. Kau tidur satu malam di samping kuburannya agar mendapatkan wangsit. Dan malam itu kau bermimpi seakan-akan berbicara dengan si pencipta dunia maya Facebook itu. Dia bertitah, “Sujud di kuburanku tiga kali, lalu bilang ini: sa, dua, lhee, peut, limong, nam, tuuuuuuu-joeh! Nyang lakoe puwoe u binoe, nyang binoe puwoe bak lakoe. Nyang ka keunoe puwoe u nanggroe, nyang han eik theun sidroe puwoe bak sot keunoe.”
Dan kau pun terjaga. Keesokan paginya, kau bersujud tiga kali menyembah kuburan Mark Zuckerberg, lalu kau mengucapkan mantera yang diberikannya tadi malam dalam mimpi, “Sa, dua, lhee, peut, limong, nam, tuuuuuuu-joeh! Ureung lakoe puwoe bak binoe, nyang binoe puwoe bak lakoe. Nyang ka keunoe puwoe u nanggroe, nyang han eik theun sidroe puwoe bak sot keunoe.” Setelah itu kau menuggu. Penasaran. Menunggu lagi. Sudah agak lama. Tidak terjadi apa-apa, tidak terjadi perubahan apa-apa. Kau kesal. Menunggu. Menyumpahi Mark Zuckerberg sebagai manusia penemu dunia baru sekaligus beragam problem baru itu. Lalu malamnya kau datang lagi ke kuburannya. Tidur di situ. Lalu bermimpi. Dalam mimpi, Mark datang dengan senyumnya yang khas itu. Katanya, “Passwordnya salah. Salah di awal. Bukan “ureung lakoe”, tapi “nyang lakoe”. Ulangi besok pagi.”
Esok pagi kau kembali bersujud tiga kali menyembah kuburan Mark Elliot Zuckerberg, lalu kau mengucapkan mantera-password, “Sa, dua, lhee, peut, limong, nam, tuuuuuuu-joeh! Nyang lakoe puwoe u binoe, nyang binoe puwoe bak lakoe. Nyang ka keunoe puwoe u nanggroe, nyang han eik theun sidroe puwoe bak sot keunoe.” Dan, tiba-tiba, blaaaaaa! Kau kembali berada di halaman rumahmu di dunia nyata.
Namun, kini baru jelas kaurasa. Sunyi mendera. Sunyi menyiksa. Dunia tanpa ada lagi manusia. Dan serta-merta kau masuk ke kamarmu. Menekan tombol power pada laptopmu. Kau tak mungkin berlama-lama lagi di dunia nyata yang sunyi menekan begini. Kau ingin segera kembali ke dunia yang ramai. Tetapi, “Oh, Tuhan, baterai laptopku sudah habis!” Laptop tak mungkin menyala lagi. Sedangkan listrik di dunia ini sudah beratus-ratus tahun tak ada lagi. Mesin-mesin pembangkitnya pun sudah berkalang tanah.
“Oh, Tuhan, bagaimana caranya ini? Oh-oh-oh! Ya-ya-ya!” kau ingat. Kau masih punya baterai serap yang sering kaugunakan dulu dalam perjalanan. “Semoga dia masih ada di dalam laci meja ini.” Dan laci meja segera kaubuka. Wah! Kau menemukan baterai itu. Segera kaupasangkan pada laptop. “Semoga ia masih menyimpan arus barang sedikit.” Nah, sekarang power laptop kautekan. Blaaaaaaa! Laptop menyala. Kau mengakses internet. Membuka akun Facebook. Lalu keluar tulisan, “Mau meneruskan? Klik di sini!” Dan kau mengklik di situ.
Klikkk!
 Kembang Tanjong, Januari 2014
* Musmarwan Abdullah, cerpenis