Articles by "Cinta"
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Pemburu Buta
Oleh:safrizal



Dulu kau yang mengajari kami
Jangan menzolimi sesama muslim
Dulu kau juga yang bilang
Jangan mengambil hak orang lain
Dulu kau yang bilang jangan mengingkari janji
Tapi itu dulu..
Skarang kata itu seperti tlah hilang dalam dirimu
Ajaran mu tegasanmu
Kini tlah hilang..
Dengan satu alasan yang kau berikan
Dengan satu perkataan dengan sulapan lidah mu
Antara ide otak licikmu
Kau bersandiwara
Dirimu pemburu buta..
*safrizal,seorang desainer yang menulis puisi di waktu senggang.
Penantian Tak Pasti
Oleh:safrizal



Di pagi ini aku terus menanti
Menanti kedatangan yang tak pasti
Engkau di sana..aku di sni
Menunggu hal yang tak pasti
Dulu..
Kau berjanji sehidup semati
Bersumpah langit dan bumi
Dulu..
Engkau bilang padaku
Cinta ku..cintamu
Sayangku..sayangmu
Rinduku..rindumu
Hidupku..hidupmu
Matiku..matimu
 
Tapi itu dulu
Sebelummu kenal dia
Sekarang semua itu7 telah sirna
Pergi entah kenapa
Mungkin itu hanya cerita fiktif belaka.
 
*safrizal,hanyalah seorang yang menulis puisi di waktu senngang.
Tangis Pnenyesalan
Oleh:safrizal


Bunga layu di tepi jalan
Harum yang semerbak telah hilang
 
Bunga yang di harapkan
Tak ada harapan
Pucat memudar warna di karang
 
Mengharap kumbang kembali datang
Tang telah mengambil madu kenikmatan
Kini dia terbang untuk menghilang
Meninggalkan kecewa yang amat dalam..
Dalam tangis penyesalan.
 
*safrizal,hanyalah seorang yang menulis puisi di kala waktu senggang.
Tangisan Bunga Layu
Oleh:safrizal


Dulu bunga putik indah di karang
Sang bunga slalu di jaga
Kini bunga sudah bebas
Dirimu sudah mekar
Kumbang pun datang menggoda
Meminta hinggap sebentar
Sering pun kumbang hinggap
Meminta setetes madu
Bunga pun menolak
Sering pun kumbang meminta madu
Bunga masih menolak
Kumbang terus meminta
Bunga pun tergoda
Hingga dapat di rasa
Bunga pun tergulai kecewa
Penyersalan tumbuh di dada
 
Kumbaang pun pergi terbang
Menghilang entah kemana
Meninggalkan bunga yang hilang
Dalam tangis amat dalam
Dalam tangisan bunga layu

Kota Jantho, 2014
 
*safrizal, penulis pemula, skarang bekerja di nadesain.com
Oleh:safrizal


Afdhal berkata
Dulu dia yang mengajariku
Jangan menzalimi sesama muslim
Dulu dia yang mengajariku
Jangan  mengambil hak orang lain
Dulu dia juga yang mengajariku
Jangan ingkar janji
Dulu dia juga yang mengajariku
Jangan berbohong
Tapi itu dulu..
Skarang semua itu tlah hilang
Di hempas masa dan waktu
 
*safrizal, seorang penulis pemula, sekarang bekrja di nadesain.
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/01/31/celaka
SUNGGUH, tidak ada yang lebih kha daripada Mustafa Musa. Bahkan jika ia berjalan di pasar, seakan bukan hanya pedagang yang menunduk, tapi juga tokotokonya sekalian. Sayur mayur dan lauk pauk yang berserak tumpuk segera berkumpul,menyambut Mustafa Musa. Yassalam, inilah lelaki paling hebat sepanjang sejarah ditemukannya pulau Sumatera oleh bajak laut. Tidak ada selain dia. Mustafa Musa berhasil menguasai Pasar Selatan hanya berbilang hari dari rencana penaklukannya semula.

Padahal ini pasar dikenal bengal dan kejam.Ketika baru terpilih ia berjanji akan emurahkan harga pangan sandang, meringankan harga mahar, mensejahterakan janda-janda, dan tentu saja dibumbui sekelindan janji lainnya. Sebenarnya itu tidak perlu, toh, tidak ada yang berani protes sekalipun ia ingkar.
Hanya dua orang yang berani bersikeras menuntut: Sabiran dan Malik Husen. Keduanya telah berpulang ke pangkuan tanah. Usut punya usut, mereka portes agar Mustafa Musa segera dienyahkan. Mereka seniwen setelah tanahnya disita pasukan Mustafa untuk kepentingan pembangunan. Sekarang Mustafa sedang menyusun rencana penabalan diri sebagai Tuan Abadi Kuasa. Namun rencana itu enjadi kacau. Puncanya setelah ia mendapat kabar pada Senin malam, saat sedang duduk di kedai kopi Asbabun Nisa. Saat itu dia teringat teman baiknya,Marzak. Marzak adalah eorang guru bahasa, bajingan ini kepercayaannya, sudah beranak dua tapi masih sukaenggoda cewek-cewek perempuan saat mengajar di kelas.
“Itu hanya ramalan, Tuanku. Jangan terlalu percaya. Zulkifli itu memang penyebar berita buruk,” ujar Marzak meringankan beban pikiran temannya. “Tapi aku sudah melihat kenyataannya,” kata Mustafa Musa ngilu. “Apakah tidak sebaiknya Zulkifli kita enyahkan saja? Apa susahnya bagi Tuan? Dia telah membuat keresahan.” Demikianlah! Kabar yang berembus Zulkifli sedang dicari pihak Mustafa Musa. Orang-orang yang difitnah tidak perlu membela diri, saudara. Kita hanya perlu balas dendam,” ujar Zulkifli kepada teman-temannya sesama pedagang. Malam itu, Senin, bulan masih sabit. Mustafa Musa duduk sendiri di bangku panjang yang melidah dari pintu ke dindingdepan kedai kopi Asbabun Nisa.
“Tuanku, Mustafa Musa!”
Terloncat dari bangku Mustafa Musa mendengar suara itu dan segera memasang kuda-kuda. “Tak perlu bersiaga. Saya tidak akan membunuh Tuan.” Zulkifli tertawa. “Kau selalu membuat hidupku dalam keadaan berenang-renang, Zul,” ucap Mustafa Musa. Dia duduk kembali. “Sudah demikian adanya, Tuanku. Anak-anak Tuan, cobalah lihat, semakin ta terkendalikan. Semalam saya lihat si sulung sedang memadu cinta di Selatan Tiga.
Tak wayang, lelaki yang memeluknya itu....!” “Lelaki? Kau berdusta,” hardik mata Mustafa Musa melebar, suaranya menggelegar. “Memang tak ada kata percaya dalam kamus Tuan untuk saya. Sama seperti ketika anak-anak lelaki Tuan saya kata akan menjadi banci. Tuan tak terima. Hari ini, jadi banci mereka. Siapa lagi pewaris Tuan?” “Aku tidak perlu cerita itu, Zulkifli.Katakan padaku siapa lelaki yang memelukSalim Wahidin!”
“Tuan tak akan percaya,” Zulkifli mengeraskan suara. “Kamu salah mata!”
“Mata saya masih sangat terang, Tuan.”
“Celaka! Celaka!”
***
Marzak menyusun rencana untuk menumpas Zulkifli. Kedekatannya dengan Mustafa Musa membuat ia berani mengambil keputusan sendiri. Di pasar, diam-diam dia kerap memerhatikan gelagat Zulkifli yang khusyuk berjualan peci. Nun di kamar kehormatan, Mustafa Musa terbaring sakit sudah sepekan. Anak sulungnya, Salim Wahidin sudah terganggu jiwanya setelah dihantam benda tumpul di tengkuknya oleh orang tidak dikenal. Seorang pengawal buru-buru masuk menyampaikan, “Zulkifli telah mati, Tuan. Di tangan Marzak!” “Bagaimana bisa?” Mustafa Musa terkejut bangkit sekalipun masih lemah. “Kami tidak tahu persis. Tapi Marzak sedang dirajam warga Pasar Selatan karena ditemukan sedang bercinta dengananak lelaki kedua Tuan!” Mustafa Musa membeliak tak percaya. Suara lemahnya hanya mengucap,” Celaka! Celaka!”
* Nazar Shah Alam adalah pegiat di Komunitas Jeuneurob

Ingin Bersama


Aku lupa akan hidup kita
Ku kira kita masih sangat muda

Ingin aku bersama seperti dulu kala
Di saat kita kita masih jatuh cinta
Ingin aku merasakan cinta
Seperti dulu yang ku damba

Sekarang usiaku sudah terlalu tua
Di makan tahun sepanjang masa

Ingin aku bersama berdua
Menjalani masa tua yang bahagia
Merintis kasih sayang setia
Yang kita damba sewaktu muda.

*safrizal,hanyalah seorang yang menulis puisi di waktu senngang,
Dan kini dia juga mengelola website lirik puisi.